Skip to main content

my side of the story, Part 1

Perkenankanlah aku memperkenalkan sebuah negeri, negeri di awan, tempat dimana aku tumbuh besar, ketika aku baru tumbuh jakun dan pecah pita suara. Di negeri ini matahari tidak pernah datang menyengat. bahkan sunset pun datang lebih awal, sekitar pukul empat sore. karena jam segitu sinar mentari sudah terhalang oleh gunung tertinggi ditatar sunda ini. hasilnya, setiap pagi kabut-pun setia mengunjungi negeri ini. dimana mana jalanan aspal selalu basah oleh embun. sungguh, seperti sebuah prototype nirwana yang ditawarkan dalam ukuran yang sangat sederhana.



Tidak pernah terpikir bagi seorang aku yang tumbuh besar ditengah hiruk pikuk kota metropolitan untuk dapat hidup di negeri itu. namun keinginan untuk tinggal di kaki gunung mengalahkan keinginan-ku untuk tetap tinggal di Jakarta. keinginan yang sama yang menarik narik lenganku masuk aquarius liat liat kaset, jalan jalan ke wijaya twenty-one liat bulu-bulu halus, dan keinginan yang sama pula yang memaksaku nonton RCTI dari sebuah decoder.
Ah, toko kaset di negeri ini juga oke, walaupun lagunya kebanyakan dalam bahasa sunda yang asing ditelinga saya. Bioskop-nya juga asik, walaupun cuma satu, tapi mudah dijangkau. yang dateng juga manis manis. segar lagh pokonya. kayak bayem. aku pun tidak lagi membutuhkan televisi untuk membuatku terhibur. jadi? apa gunanya dekoder?




Beda dengan Jakarta, di negeri itu aku masuk sekolah cukup pagi. pukul 06.15 Waktu Indonesia Barat. aku harus berangkat very early setiap hari agar tidak terlambat. sepanjang hidup, ya ini masa-masa paling nyebelin dimana setiap pagi aku harus menggigil kedinginan hanya demi membersihkan badan. sering terlintas dipikiranku, siapa sih orang yang iseng membuat jam masuk sekolah begitu paginya. seharusnya orang semacam ini dilaporkan kepada KOMNAS Anak. tapi waktu itu belum ada. gimana donk...




Suatu pagi, aku datang ke sekolah lebih pagi. iseng saja. bangunan sekolah itu tampak lebih indah di pagi hari, ketika embun masih bergelantungan dan kabut masih mengambang disela sela tiang-tiang ooverstecht. bangunan yang berusia ratusan tahun itu tampak lebih anggun apabila digelayuti oleh awan. bel sekolah masih tidak akan berbunyi hingga lima belas menit lagi, lebih baik aku bengong saja di pagar masuk. scene seperti ini sayang sekali kalau dilewatin. dan tiba-lah moment itu. sebuah long-chassis land cruiser berhenti di dekat pintu gerbang. menurunkan seorang (seekor?) bidadari. loh, masa iya sih, ada seorang (seekor?) angel ikut sekolah disini?





Aku menyikut teman disebelahku, "itu siapa?". dia tersenyum... "nih nomer telefonnya, 131. cari tahu sendiri". ah, aku paling gak bisa nih sama istilah 'cari tahu sendiri' gini. pun, aku hanya bisa mengagumi-nya berjalan masuk melewati pintu gerbang itu.





Keesokan harinya, terbersit keinginan untuk nongkrong lagi di pintu gerbang. asik kali yeee... tapi rupanya sudah terlambat. karena hingga bel masuk berbunyi, land cruiser itu tidak kunjung datang. ah, sutrahlah. waktu keluar main aku kelaparan. hm, gorengan di negeri ini memang tidak lebih baik dari sekolahku di Jakarta dulu. tapi apa daya, aku membelinya juga. wong laper. di jalan kembali ke kelas aku berpapasan dengan si bidadari kemarin. jantungku mendadak kabur entah kemana. kuberanikan diri untuk tersenyum. dan bidadarinya tersenyum balik saudara-saudara! ah senangnya.





Tidak banyak lagi yang kuingat, bagaimana kami berkenalan. aku dan si bidadari jadi berteman dekat. sangat dekat hingga kami selalu pulang bersama setiap hari. well, engga setiap hari juga kali ya, soalnya aku ingat sesekali aku pulang sendiri, namun ke-esokan harinya pasti kami pulang bareng lagi dan berbincang tentang kenapa kemarin pulang sendiri sendiri.
Jatuh Cinta, memang berjuta rasanya. feeling yang addictive, setiap kali dipuaskan selalu timbul rasa haus lagi. argh. logika selalu menghalang halangiku untuk menyatakan perasaan ini pada si bidadari. "Apa sih yang ingin kau buktikan?", si logika menghardik sombong. "sudah lah, toh cintamu pasti ditolak", imbuhnya, "dasar anak ingusan...". kupingku memang panas, tapi tak sebersitpun timbul keberanianku untuk melawan logika.



Ternyata si logika ini memang benar, bajingan tengik yang selalu benar. tak berapa lama si bidadari ini memutuskan untuk sekolah di kota besar. well, diputuskan tepatnya. dan aku terjebak di negeri ini. tanpa teman lagi, tanpa masa depan (apa sih? hiperbola banget.. hihihi). hingga pada suatu bulan, masa bhakti papi berakhir di negeri ini. kami semua harus pulang. pulang ke kampung halaman, sebuah rawa becek di sudut kota Jakarta. satu persatu foto si bidadari kususun dalam sebuah album. sebagai kenangan masa terindah dari negeri di awan ini.

Comments

  1. argh... sekarang paragrafnya loncat loncat jauh sekali...

    Ampun Tuhannnnn

    ReplyDelete
  2. aku nangis bacanya :(
    aku cinta padamu!!

    ReplyDelete
  3. perhatian: cerita ini hanyalah fiksi belaka, apabila terdapat kesamaan karakter dan alur cerita itu hanyalah kebetulan saja. hihihi

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

review toyota altis vs honda city

Altis versus City? lho kok? kan beda, yang satu kelas city car yang satu kelas mid size sedan. ya, inilah anomali itu. kalau kita lihat dari segi budgetnya, kedua mobil itu bisa keliatan in par. kalo dulu dulu, beda kelas mobil selalu beda features-nya. biar gimana gimana Toyota Starlet memang tidak bisa dibandingkan dengan Toyota Corolla, apalagi ke Corona, ke Crown, dan seterusnya. pun begitu dengan jajaran mobil honda, Civic sama Accord gak akan bisa sama. tapi sejak munculnya City, peta permainan pun berubah.

Civic taun 2001 sekarang beda harganya tipis sama city taun 2003. rata rata kilometernya mirip mirip. stamina mobilnya juga saat ini hampir sama. urusan space, memang civic lebih lega, tapi teknologi? city unggul karena udah pake transmisi CVT. konsumsi BBM jadi lebih irit, tenaga ter-multiply dengan baik. apalagi taun 2004 udah keluar City versi VTEC-nya, padahal beda cc-nya cuman terpaut 100cc.

Tahun ini, persaingan antar kelas jadi makin irrelevant antara city car dengan mid…

nyari mobil itu susah

Udah setaun gue ngimpi beli mobil baru. sebenarnya nothing's wrong with my previous car. dia cantik, lincah, dan tidak pernah rewel. kecuali waktu akinya soak dan ternyata udah setaun gue telat ganti aki.. haha pantesan. mobil gue dulu itu bebas depresiasi, belinya segitu ya jualnya lagi segitu. nikmat kan? cuman masalahnya keluarga kecil gue udah menuntut space yang lebih luas lagi kalo mau jalan jalan. apalagi jalan jalan keluar kota; kopernya Bunga aja DUA! belom strollernya, trus koper gue ma bini gue satu, trus belom lagi kalo pulang pasti ada aja belanjaan yang musti dibawa. wuih! pernah gue ke bandung sampe pulangnya gue gak bisa liat spion :D

Akhirnya datanglah kesempatan buat ganti mobil kesayangan yang kecil dan imut itu. sebenernya rasanya sayang sih, tapi si pembeli bolak balik bilang: "gak papa, kan dapet yang lebih bagus". ahak! maca cih? ternyata mencari mobil yang lebih bagus dari mobil gue yang lama itu cukup susah dan menyebalkan.

Pilihan pengganti mobil …

komparasi boeing 737-900ER vs 737-800NG

beuh! sangar gak tuh? jarang jarang ada blog yang bikin komparasi pesawat terbang, gue aja ampe ngeri ngebaca judulnya. takut orang boeing dateng kesini trus ngecek ngecek, trus naro komen :p lebay..

hehe, sante aja lah. ini kan cuman ngecap ngecap daripada blog gua dibilang ga aktip.

kebetulan beberapa waktu silam gue dapet kesempatan travelling naik pesawat mid-size baru itu. terus terang gue bangga loh sebagai orang indonesia, bangsa kita ini termasuk pembeli pertama kedua pesawat lansiran amerika itu. walopun duitnya dapet dari investasi asing tapi yah, kan demi perekonomian bangsa juga. ngga tanggung tanggung loh, ada maskapai yang capnya singa itu sekaligus beli 178 unit 737-900ER! bukan mercy loh, ini pesawat terbang! kalo dijejerin dari cengkareng bisa nyampe ke blok m kali yah. dan juga maskapai nasional kita taun ini beli sekaligus 50 biji 737-800NG. wow, impressive!

kesan pertama masuk 737-900ER adalah sleek, sophisticated, dan... adem! suer ac-nya adem banget rasanya kayak ma…