Apa yang kau cari di blog ini?

Tuesday, September 16

yuk, berbuka puasa

sebuah perbincangan kecil terjadi tadi malam saat gue dan gerombolan siberat bercangkruk ria di suatu kedai franchise panganan londo. seperti gerombolan sekolahan udik lainnya, kami ini terpecah pecah menjadi beragam 'academic background' dan 'professional experience' namun tetap satu bahasa, bahasa sekolah udik. haha! Acara buka bersama memang selalu seru, seperti biasa melepas rindu pada almamater ndeso yang masih memegang teguh kendesoanya tiap kali bertemu. dari tahun ketahun ya isinya cuma gitu aja. guyonane pathing telecek, kalo kata Bini gue bilang.

diskusi memanas ketika seseorang perwakilan dari dunia perbankan menyatakan statement yang mengguncang jiwa; "kalo gue sih karena banking kali ya? gue dapet 24 gaji setaun". wow! pernyataan yang cukup provokatif bahkan untuk kita kita ini yang sudah berhasil mengendalikan hawa nafsu selama setengah bulan. "iye, 24 kali berape? mending gue dong, cuman empat belas kali tapi gede gede", rekan dari FMCG menimpali. si tukang IT melanjut, "tapi kalo diukur setaun sama aja kali, malah mungkin lebih gede di bank, kan dapet fasilitas segala macem loan".

si banker, merasa diatas angin, tambah jumawa, "emang gitu bok, kalo di bank tu ya supervisor keatas hidupnya dibikin nyaman. soalnya kita kan megang duitnya nasabah, jadi biar ngga nyolong". Seakan yang lain mendengarkan, "jadi kita ngga kepikiran tuh, mo tinggal dimana, mo naik mobil apa, semua sudah terpenuhi" tandasnya.

seorang rekan guru pun akhirnya ikut menimpali, "seharusnya semua guru juga dibikin begitu ya?". ada yang tertawa, ada yang terdiam.

temen gue ini sebenarnya lulusan IT, dari luar negeri pula. tapi karena panggilan jiwanya ingin mengajar, beliau-pun mendedikasikan hidupnya menjadi seorang guru, dan jadi dosen juga sih untuk menambah pendapatan :) kami yang tertawa adalah golongan yang menyukai humor-humor satirnya. dan kami yang terdiam, adalah kami yang terpaksa musti mikir kenapa si guru ini musti ruin the day.

the fact is, hidup menjadi seorang guru di negara ini memang ngga indah. beberapa guru mendapat kesempatan lebih baik dengan mengajar di sekolah-sekolah internasional yang sangat memperhatikan kesejahteraan guru sebagai ujung tombak businessnya. banyak guru yang lain harus nrimo untuk bekerja di sekolah sekolah yang disediakan pemerintah. beberapa malah, gajinya masih lebih gede pembokat gua.

"Ah, pemerintah memang ngga pernah memperhatikan nasib guru", kata si rekan FMCG, "padahal pendidikan itu penting loh buat bangsa kita". Gue yang taun depan udah mulai nyari sekolah buat Bunga, baru ngeh sebegitu pentingnya pendidikan bagi bangsa Indonesia. sebelumnya? topik tentang bea masuk alkohol mungkin lebih penting dari ini. Seorang rekan dari sebuah BUMN membela, "eh jangan salah loh, anggaran depdiknas itu yang terbesar loh di APBN". masak sih? "lho, lebih tinggi dari anggaran militer loh!", katanya, "cuman gak tau deh yang dikorupsi berapa".

"Sekorupsi korupsinya nih", si Bankers kembali berbunyi, "gak mungkin sampe sepertiga budget kan? nah dengan running 2/3 anggaran aja harusnya pendidikan disini sejahtera loh". Lha jadi duitnya pada kemana? ya karena sekolahnya aja kebanyakan. kenapa bikin banyak banyak? soalnya emang jumlah precil precilnya aja yang kebanyakan. mereka semua kan harus disekolahin, dengan segala cara. jadinya walaupun dengan atap bolong, tiang roboh, guru bergaji pembokat pun.. precil precil itu harus tetap sekolah. kalo tidak? bisa revolusi mas! set dah serem bener.

gue nyruput kopi sambil mikir; kasian juga yang jadi presiden ya? tiap hari takut revolusi :)

No comments:

Post a Comment