09 February 2009

review toyota altis vs honda city

Altis versus City? lho kok? kan beda, yang satu kelas city car yang satu kelas mid size sedan. ya, inilah anomali itu. kalau kita lihat dari segi budgetnya, kedua mobil itu bisa keliatan in par. kalo dulu dulu, beda kelas mobil selalu beda features-nya. biar gimana gimana Toyota Starlet memang tidak bisa dibandingkan dengan Toyota Corolla, apalagi ke Corona, ke Crown, dan seterusnya. pun begitu dengan jajaran mobil honda, Civic sama Accord gak akan bisa sama. tapi sejak munculnya City, peta permainan pun berubah.

Civic taun 2001 sekarang beda harganya tipis sama city taun 2003. rata rata kilometernya mirip mirip. stamina mobilnya juga saat ini hampir sama. urusan space, memang civic lebih lega, tapi teknologi? city unggul karena udah pake transmisi CVT. konsumsi BBM jadi lebih irit, tenaga ter-multiply dengan baik. apalagi taun 2004 udah keluar City versi VTEC-nya, padahal beda cc-nya cuman terpaut 100cc.

Tahun ini, persaingan antar kelas jadi makin irrelevant antara city car dengan mid-size sedan BEKAS, apalagi di kisaran harga 100-150 jutaan: market tergemuk di Indonesia saat ini. kalau gue liat untuk pasar sedan second, yang lumayan menarik disini ada dua model: Honda City dan Toyota Altis. Civic baru emang keren, mengalahkan dua model tersebut, tapi harganya masih diatas 220 jutaan. menggila.

Masa sih altis dan city bisa dicompare head to head? coba kita review satu satu.

Toyota Altis
Altis keluar pertama kali taun 2001. datang dengan mesin twincam 1.8 liter injection. pesaing altis waktu itu langsung melebar, ada bmw 318i, peugeot 306, mitsubishi lancer, dan nissan sentra. kala itu, honda civic masih dibekali dengan mesin 1600cc. sedangkan altis datang dengan model yang benar benar revolusioner, walaupun kebanyakan orang indonesia menyangsikan model ini: gendut sih. mana bisa lari? sebenarnya tahun 99 corolla sudah datang dengan mesin 1.8 liter, tapi di altis mesin ini disempurnakan mekanisme intake-nya hingga sanggup menyemburkan tenaga hingga 140hp. sebagai bandingannya, corona absolut bermesin 2.0 liter 'hanya' bertenaga 145hp.

Tahun 2004 Altis datang dengan mesin yang disempurnakan dengan VVTi. tenaganya meningkat 7 hp namun konsumsi BBM berkurang hingga 1:10 (kombinasi). teknologi ini sebenernya bukan barang baru. Merc udah pake di boxer 300E mulai taun '86. BMW ngikut dengan nama VANOS taun '91. honda udah pake VTEC di accord cielo, dan yang terkenal di civic ferio. diikuti nissan sentra dengan teknologi VVT. engga tau kenapa baru taun 2004 toyota mulai 'memasang' VVTi di kelas Corolla. bahkan ditahun yang sama honda udah menggunakan VTEC di kelas 1.5 liter.

Altis selalu datang dengan dua grade: kelas G dan kelas J. intinya kelas G tampil lebih mewah, exterior Altis G penuh dengan chrome panel dari mulai grill, door handle, lis jendela, lis body, hingga panel bagasi. interiornya pun tampil mewah dengan nuansa beige dengan wood panel disana sini. sekilas gue keinget sama toyota corolla DX yang terakhir menggunakan warna 'cream' seperti ini. Warna ini, walaupun terlihat mewah tapi gampang kotor, dan cepat sekali 'out-of-date'. Tapi kembali, ini urusan selera.

Altis G pun tersedia dalam transmisi manual dan automatic. sedangkan Altis J lebih minimalis, tanpa chrome panel, tanpa wood panel dan interior berwarna grey. personally, gue lebih seneng Altis J karena bahan material yang digunakan lebih awet. biasanya sih, chrome dan wood panel tidak akan bertahan sampai sepuluh taun. langsung keriting deh. gue lebih suka yang minimalis kayak di Altis J. cuman masalahnya... kaga ada versi maticnya cuy, pegel donk. he eh.

Altis body gendut, seperti para pendahulunya, punya periode model yang panjang, sejak 2001 hingga 2008. alhasil harga secondnya pun melebar dari 100 jutaan (Altis J 2001) hingga 190 jutaan (Altis G A/T 2008). abis itu keluar all new corolla altis di akhir 2008 dengan kisaran harga baru antara 277 jt (versi J) sampe 350 jtan (versi V). nah, ada gap yang kosong kan? antara 200 s/d 270 jt? gap itulah yang sekarang diisi sama civic model baru.

Kenapa musti ambil Altis? setelah mencoba test drive beberapa puluh altis, gue berpendapat bahwa mobil ini durable. selalu berasa 'baru'. or at least untuk menjadikannya berasa baru engga membutuhkan effort yang terlalu besar. recommendation gue, kalo pengen cari altis, ambil yang taun 2004. yang udah VVTi. model ini udah menggunakan 'Gate-lever' di transmisi automatic-nya, dan dilengkapi dengan lampu belakang LED. feeling gue, embel-embel facelift tersebut akan mampu menahan laju depresiasi mobil ini. selama ini VVTi vs non-VVTi akan selisih 15-20 jt lebih tinggi. sementara depresiasi mobil ini biasanya hanya berkisar 10 jt setahunnya. Tahun 2006 juga altis disempurnakan dengan kontrol audio di setir. tapi engga terlalu significant juga bedanya.

Honda City
Dalam sejarah, terakhir honda masuk ke kancah peperangan city-car pake merk honda life jaman taun jebot dulu. lupa gue taun berapa itu. jebot lah pokoknya. abis itu kelas city-car didominasi sama toyota starlet hingga berabad abad namanya. Daihatsu menantang pake charade winner yang mesinnya lebih responsif dan suspensi independent, tapi tetep loh, gak goyang. trus gak tau kenapa starlet didiskontinyu hingga kelas city car ini kosong melompong. beberapa kali coba diisi sama Hyundai AtoZ dan Toyota Soluna, tapi it's just didn't match. Honda dengan brilliant mengambil celah ini pada tahun 2003 dengan menerjunkan Honda Jazz (hatchback) dan Honda City (sedan). dan sukses besar.

Yang membuat honda sukses jaya abadi di kelas ini bukan hanya coming in the right time in the right place, tapi juga teknologi yang jauh lebih maju daripada yang dioffer toyota.

Jazz dan City ditawarkan dengan dua type mesin: iDSI dan VTEC. simpelnya begini: mesin yang pertama dilengkapi dua busi yang menyala secara sequential dalam setiap silindernya. sementara variabel pembukaan valve dan timing pengapian di mesin VTEC bisa berubah ubah mengikuti putaran mesin. hasilnya adalah pembakaran yang optimal dari setiap tetes bensin. mesin L15A1 honda lebih unggul 1 hp dari mesin sekelas kompetitornya.

Selain mesin, teknologi transmisi honda juga jauh lebih unggul. Jazz dan City matic sudah menggunakan teknologi CVT. teknologi yang akhirnya digunakan di nissan xtrail dan mitsubishi lancer baru. transmisi CVT memungkinkan perpindahan gigi yang sangat-sangat halus. literally enggak terasa di kabin. soalnya kalo transmisi matic konvensional masih pake gear, CVT udah pake belt. kabinpun jadi sunyi senyap. selain itu, teknologi ini efektif dalam melipat-gandakan torsi yang diberikan mesin sehingga memberikan sensasi 'oomph' lebih yahud dengan konsumsi BBM lebih sedikit.

Menurut gue, teknologi yang paling canggih yang ditawarkan honda di mesin L15A1 ini adalah dimensi mesin yang jauh lebih kecil daripada mesin 1.5 liter sekelasnya. mesin yang lebih kecil memberikan jatah kabin dan bagasi yang lebih luas. bisa dibandingin sama sedan mid-size yang lain deh. banyak orang yang puas sama bagasinya city karena lega banget. selain itu, mesin yang lebih kecil berarti juga getaran mesin yang lebih halus. coba deh lo liat mesinnya Jazz matic, kalo masuk gigi posisi mesin akan berubah beberapa derajat. mesin ini 'floating' diatas sassis, jadi peredaman getaran mesin lebih sempurna. gue coba tes di tol jagorawi pake city, getaran mesinnya tetep engga kerasa walaupun rpm udah menyentuh angka 6,000. rasanya kayak nyetir mobil listrik :)

iDSI vs VTEC
By the way, jadi mendingan milih iDSI atau VTEC? power mesin VTEC lebih unggul 20% daripada iDSI, sementara torsi mesin iDSI sedikit (sekali lagi: s e d i k i t) lebih tinggi . hasilnya? orang bilang sih iDSI akan lebih irit karena kecenderungan psikologis pengendara untuk ngebut lebih tinggi pada mesin-mesin VTEC. kalo pendapat gue personal sih, keiritan antara kedua mesin tersebut hampir mirip, VTEC bisa 1:12 kalo iDSI bisa 1:13, perbedaannya justru ada di kondisi mesinnya dalam jangka panjang. karena mesin iDSI menggunakan 2 busi yang menyala disaat hampir bersamaan, dalam jangka panjang mesin ini akan lebih bersih daripada mesin VTEC. setelah berumur lima tahun kondisi iDSI akan lebih 'tenang' dan lebih stabil daripada VTEC. ini pendapat pribadi loh ya. jadi, kalo mobilnya muda ambil VTEC kalo mobilnya berumur ambil iDSI.

Perbezaan yang lain terletak pada settingan suspensi. iDSI dan VTEC menggunakan sistem suspensi yang sama, tapi settingan VTEC lebih sporty daripada iDSI. lebih keras gitu. tapi enggak keras keras banget sih. membuat orang lebih confident untuk ngebut di jalan tol. walaupun engga seenak suspensinya peugeot 306 sih. kalo 306 sih, lari 100 km/h di bunderan semanggi juga kaga bakal geser. eniwe, hal ini membuat diatas kertas iDSI lebih empuk dan lebih irit daripada VTEC. namun demikian perlu dipertimbangkan juga piranti pengeremannya. semua iDSI dari produksi awal menggunakan rem belakang tromol, sedangkan VTEC menggunakan rem cakram di keempat rodanya. emang ngaruh banget ya? ya iya lah, cakram vs tromol gitu loh. kan sayang, soalnya udah dibekali teknologi ABS dan EBD. ngerem pake cakram lebih yahud.

Memang kalo dilihat secara jernih, iDSI secara keseluruhan adalah versi spec down dari VTEC. mangkanya harga bekasnya juga lebih murah 5-10 juta. tapi kita musti kembalikan kepada kebutuhan kita secara jujur. mobil seperti apa yang kita perlukan.

Altis vs City
Patokan gue, kedua mobil ini terpaut dua tahun. artinya dengan duit yang (hampir) sama, elo mendapatkan altis dua tahun lebih tua daripada City. kalo lo cukup beruntung bisa dapet selisih setahun. tapi engga pernah bisa sama. Altis 2001 harganya sama dengan City 2003 iDSI. Altis 2004 sama dengan New City 2006. Saat ini juga Altis second (kelas G) harganya udah 277jt, beda 20 juta sama City baru 2009. Jadi taun depan Altis 2008 akan sama harganya sama City gris baru. see?

Gue lebih seneng compare antara Altis 2004 dengan City 2006, karena beberapa hal: dua duanya sama sama baru di-facelift. ruangan interior yang (hampir) sama luas. sama sama mengusung teknologi variable timing. sama sama pake torsion beam, ABS, EBD, double Airbag dan rem cakram di keempat rodanya. coba kita liat lebih dalam;

- City lebih irit
Altis sanggup menyemburkan tenaga sampai 147hp, sekitar 30% lebih tinggi, dengan bobot lebih berat 8% daripada City. diatas kertas lebih kenceng Altis donk? tapi engga juga. Jakarta macet bung, jalanannya kriting lagi, mau kenceng kenceng kemana sih? Kalo gue bilang sih batesan 100hp itu perlu untuk power reserve siapa tau dibutuhkan, buat nyalip truk kek, nyalip bus kek. perlu lah pokoknya. nah, kedua mobil ini udah cukup lah powernya untuk itu. Trus, seperti gue ulas diatas, mesin city jauh lebih kecil, lebih redam, lebih tenang dari altis. pendeknya, mesin city kayak musik akustik, mesin altis kayak konser orkestra. kembali ke selera sih. iritnya? beda tipis. Altis bisa sampe 1:10, City 1:12.

- Altis lebih empuk
Suspensi belakang Altis istilahnya 'retro' (kalo engga boleh dibilang 'katro') karena kembali pake suspensi model Starlet: Torsion Beam. gue tadinya merengut ngeliatnya, Accord Maestro aja udah pake double wishbone di belakang, kok ini balik lagi jadi batangan? ternyata alesannya ada di aspek maintenance. suspensi model begini perawatannya mudah dan murah. apalagi mengingat kondisi jalanan di Indonesia yang lobangnya bisa pindah pindah. sepertinya suspensi model begini cocok banget deh buat pasar sini. Suspensi belakang City pake model Torsion Beam juga, tapi H-Shaped. kelebihan model ini adalah lebih compact dan memberikan space lebih luas untuk bagasi. kalau settingan suspensi City rasanya lebih rigid daripada Altis. ditambah lagi wheelbase City lebih pendek 150mm daripada Altis. Hasilnya membuat Altis lebih empuk, lebih nyaman, sedangkan City lebih lincah dan lebih pede di kecepatan tinggi.

- City lebih lincah
Bobot yang 100kg lebih berat membuat Altis sedikit lebih 'ngayun' daripada City kalo kita overtake line sebelah. kalo diajak begini beginian memang City lebih lincah. apalagi, City sudah dilengkapi electric power steering (EPS). udah ngga ada lagi deh cerita ngecek ngecek oli power steering. free! hasilnya, setir City lebih ringan daripada Altis. engga perlu khawatir, EPS itu adjustable disegala kondisi jalan. maksudnya kalo di jalan tol dia akan shut down dan membuat mobil jadi stabil.
Berbicara urusan dimensi, Altis lebih lebar enam sentimeter dibanding City. kalo dipake blusukan di gang-gang ya enakan City lah. tapi menurut gue ya, 6cm itu gak significant. walopun emang sih nambahin pede kita buat tampil lincah juga.

- Altis lebih nyaman
Disini Altis berjaya. interiornya ngga main main, orang pada bilang: "ini baru namanya mobil beneran". lho? emang City mobil bohong bohongan? hahaha. engga, gini.. maksudnya itu kualitas finishing interior Altis memang mengagumkan. udah bisa dijajarin sama Mercy jaman taun '90an dulu. jok dan door trim-nya udah pake bahan kulit, walaupun bukan original bikinan toyota tapi at least import dari vendornya toyota. audio-nya udah in-dash, terintegrasi penuh, dan speaker systemnya bikinan Pioneer! di Altis 2006 malah kontrol audio ada di wheel steering, cakep! sementara City masih pake double DIN audio system yang bahkan engga punya tweeter speaker didepan.
Dashboard Altis dilengkapi teknologi optitron, kalo orang awam bilang 'indiglow' yang 'black diamond'. mengingatkan pada screen blackberry bold yang baru :) perbezaan mendasar antara dashboard optitron dan konvensional seperti pada analogi billboard yang ada di jalan-jalan, kalo yang lama disinarin lampu dari atas, kalo optitron ini ditembak lampu dari dalam. Sebenarnya City juga udah pake teknologi 'backlit' kayak gini, tapi hasilnya engga se-elegan Altis, soalnya teknologi optitron menggunakan lampu LED yang tajam tapi engga silau.

- Harga jual Altis lebih tinggi
Bicara tentang depresiasi, selalu tergantung sama 'image' yang dipegang oleh mobil tertentu dan kondisi pasar saat itu. artinya kalo harga bensin lagi tinggi maka mobil 'irit' akan banyak dicari orang. kalo musim banjir makah mobil 'tinggi' akan diserbu. nah, dari dulu brand Corolla selalu 'handal' kalo udah urusan harga jual kembali. kalo dibandingkan, antara altis sama city yang berselisih dua tahun saat ini harga bekasnya tidak terpaut jauh. tapi kalau udah berumur, kondisinya rada berbeda. Altis G A/T 2004 dan City VTEC A/T 2006 berada di harga yang sama sekitar 150jtan. Sementara Altis G A/T 2002 masih bisa dihargain 125jtan, sedangkan City VTEC 2004 udah turun ke angka 115jtan. sekilas, depresiasi City terasa lebih besar. dan makin berumur depresiasi Altis akan makin kecil per tahunnya. Masalah harga jual kembali buat orang Indonesia sangat sensitif. sehingga Astra International-pun perlu mengembangkan Mobil 88 sebagai outlet mobil second agar harga mobil second toyota tetap bersaing. perlu diingat, layanan purna jual produsen mobil memegang peranan penting di sektor ini. jaringan Toyota memang menjadi salah satu yang terbaik di negeri ini, tapi jaringan serupa milik Honda juga sudah sanggup mengimbangi Toyota. terutama dikota-kota besar.

Kesimpulan
Kembali ke selera. Altis adalah mobil pewe, sekaligus elegan. 'mobil beneran' kata beberapa orang. sementara City adalah mobil yang penuh (sekali lagi: penuh) dengan teknologi tinggi. beli altis adalah beli ke-pewe-an dan beli citra 'classy'. cucok untuk orang orang yang mengembangkan image diri menjadi superior. sementara beli City adalah beli teknologi dengan harga bersaing. citra yang terbentuk adalah 'sophisticated', cucok bener buat orang orang yang senang beli gadget, dan merasa dirinya ultra-modern.

Jadi? pilih yang mana?

05 February 2009

nyari mobil itu susah

Udah setaun gue ngimpi beli mobil baru. sebenarnya nothing's wrong with my previous car. dia cantik, lincah, dan tidak pernah rewel. kecuali waktu akinya soak dan ternyata udah setaun gue telat ganti aki.. haha pantesan. mobil gue dulu itu bebas depresiasi, belinya segitu ya jualnya lagi segitu. nikmat kan? cuman masalahnya keluarga kecil gue udah menuntut space yang lebih luas lagi kalo mau jalan jalan. apalagi jalan jalan keluar kota; kopernya Bunga aja DUA! belom strollernya, trus koper gue ma bini gue satu, trus belom lagi kalo pulang pasti ada aja belanjaan yang musti dibawa. wuih! pernah gue ke bandung sampe pulangnya gue gak bisa liat spion :D

Akhirnya datanglah kesempatan buat ganti mobil kesayangan yang kecil dan imut itu. sebenernya rasanya sayang sih, tapi si pembeli bolak balik bilang: "gak papa, kan dapet yang lebih bagus". ahak! maca cih? ternyata mencari mobil yang lebih bagus dari mobil gue yang lama itu cukup susah dan menyebalkan.

Pilihan pengganti mobil gue cukup banyak. modelnya beragam. dan celakanya requirement dari gue pun segunung: larinya musti kenceng, bensinnya irit, dalemnya lega, isinya banyak, tahan banjir, tahunnya muda, kilometernya dikit, dan... MURAH! wow, so many brief so little budget deh :)

tapi gue udah menetapkan diri untuk memenuhi kriteria kriteria sebagai berikut;

1. sedan
yo oloh bubba, jutaan orang indonesia pada demen MPV lo malah nyari sedan? udah gak up to date lagi boook... at least SUV lah, yang keren gitu. hehehe, soalnya dulu dulu juga gue pake sedan tapi ya gak pernah banjir banjiran kok. lagian kan keluarga gue gak besar besar amat, sedan aja cukup donk.

2. irit
nah ini, meditnya keluar si bubba nih, hehehe. iya donk! soalnya daripada keluar duit buat bensin mendingan buat yang lain kan? pijet misalnya...

3. kencang dan lincah
wajib nih, mobil gue yang dulu walopun cuman 1300cc tapi ganas bok. pokonya akselerasinya musti lebih kenceng dari motor gue, dan kalo lagi di jalan tol gak malu maluin.

4. bagasinya gede
ya itulah, si Bunga tuh udah kayak presiden kalo mau jalan jalan, dan gue adalah paspampresnya. tiap bepergian gue harus membawa setengah isi rumah gue jalan jalan! haha, hiperbol banget. intinya sih musti muat banyak ajah...

5. depresiasinya kecil
well, ini yang paling penting. liat tulisan gue disini kan? pokoknya gue gak mau mobil gue ini ngajak melarat. kalo dijual lagi harganya kudu masih tinggi. namanya juga orang indonesia, belom beli mobil udah mikirin gimana jualnya lagi, haha.

langkah pertama adalah menentukan produsen sang (calon) mobil ini. dari amrik, jepang, atau dari eropa. dengan memandang brief diatas, khususnya poin nomer lima, kita harus coret option produsen amerika dan eropa (apalagi korea ya). huh, melayang deh impian gue punya 318i :(

kemudian dari jepang beredarlah beberapa produsen mobil adidaya yang patut dipertimbangkan: Toyota, Honda, Daihatsu, Suzuki dan Nissan.

Gue dulu maniac mobil mobil suzuki, waktu pake jimni itu mobil gue bejek abis abisan tapi engga jebol jebol, masih jalan aja. tob banget dah, gue inget itu mobil saking engga pernah gue mandiin sampe bekarat dimana mana, dan ujung ujungnya lantainya bolong, gue bisa bediri diatas aspal kalo lagi jalan... persis kayak mobilnya the flinstones. tapi tetep, tinggal diisi bensin aja (kadang kadang ganti oli) tu mobil siap mengantar gue kemana mana. trus waktu gue pake vitara, juga gitu, enak betul. tinggal isi oli isi bensin aja, almost maintenance free. baleno juga gitu, malah waktu punya baleno ini gue sempet kagum: mobil jepang sekelas suzuki kok udah bisa seempuk mobil eropa ya. tapi saat ini belum ada mobil suzuki yang pas sama keluarga kecil gue, ada yang (hampir) pas tapi bentuknya SUV dan harganya mahal bener. sesungguhnya gue pengen banget sama swift yang built up, keren bow! tapi belakangnya sempit dan bagasinya kecil.. kasian Bunga. nah kalo yang sedan Bub? beuh.. bentuknya gak niat gituh...

Nissan? wah ini mah mobil angkatan babeh gue! huahaha.. gak tau kenapa yang kebayang ma gua adalah nissan laurel nan boyot dan lemot punya Papi. atau datsun SS mainannya Abang. jaduls banget dah. Padahal setelah gue liat liat Livina sebenernya cocok juga loh buat kami bertiga, apalagi yang pendek model XR. momen putarnya paling dahsyat dikelasnya dan 'throttle' livina pun sudah engga pake kabel yang memberi koreksi buat setiap injekan gas. paduan teknologi keduanya membuat livina mobil paling irit yang pernah gue liat sampai saat ini. tapi setelah melihat 'insight' lebih dalam lagi, kok kualitas finishingnya dibawah ekspektasi yah. bahan seat cover-nya keliatan murahan. plastik dashboardnya 'plain', dan cardboard penutup bagasinya mirip mirip tripleks. bukannya apa apa, jok dan dashboard sangat penting buat gue, inilah yang 'terasa' duluan setiap kali nyetir mobil. trus? coret deh...

Nah kalo Daihatsu gimana Bub? naa gw sempet lama punya daihatsu feroza dan daihatsu charade. dari dua mobil tersebut gue berani menarik kesimpulan: mobil daihatsu itu durable! ha? ya, durability-nya mengagumkan. walopun udah dipake ratusan ribu kilometer keliling indonesia, tinggal dibenahin dikit, rasanya tetep kayak mobil baru. cat body-nya engga bisa buram. seperti dilaminating gitu. interior dan eksteriornya tetap dalam kondisi prima. tapi masalahnya saat ini lagi engga ada mobil yang cocok buat gue. kalo terios kemahalan, kalo xenia kemurahan. ihik :(

Akhirnya gue jatuh kedalam kancah pertempuran antara Toyota vs Honda. review lengkapnya akan gue posting setelah ini, tapi kita liat aja ya? ada apa di masing masing produsen tersebut. btw, di posisi ini Bini gue udah mulai protes karena gue sangat 'picky' dalam memilih mobil. mulai cakar cakar pohon gitu deh. haha. tapi gue menikmati betul acara pilih pilih ini, secara urusan mobil kan bagian gua. euh, sini kaga pernah sentuh sentuh kalo situ milih-milih roti buat sarapan kan? hahaha. egois!

Honda. terus terang gue buta banget kalo urusan honda. baru pernah nyetir atu, accord maestro, itu juga punya kantor Papi. dan rasanya enak. lari 210km/h masih bisa asik asik baca koran. sedangkan lainnya? babar blas! seorang sahabat berbagi cerita tentang enaknya memelihara honda city miliknya. tadinya gue heran, seorang sesepuh astra kok mobilnya honda, bukan toyota. dia bilang, kalo cari mobil baru mendingan honda, kalo cari mobil udah berumur mendingan toyota. oh gitu ya? tadinya gue naksir CRV seperti seorang sepupu gue punya. mobilnya tinggi, anti banjir, yet kalau dijalan raya handlingnya mantab seperti sedan. tapi begitu dibilangin konsumsi bensinnya yang gak bisa lebih irit dari 1:7, aduh, jadi males deh. honda stream jauh lebih irit, muatnya pun banyak karena isinya lega. bisa masuk tujuh orang gendut gendut kayak gue. tapi masalahnya satu, setiap kali masuk bengkel resmi bakalan dicharge 500ribu dengan alasan mobil CBU. bukan lansiran HPM. megelin gak sih? akhirnya pilihan jatuh ke civic atau city, mengingat jazz tiada berbagasi jadi spacenya lebih sempit. padahal sayang ya, gue seneng banget sama honda jazz ini. market leader di kelasnya, masa gak bagus sih? ya kan? ya kan? review mengenai civic dan city akan menyusul di postingan berikut yaa...

Toyota! akhirnya.. sampai juga ke mobil sejuta umat, hahaha. konon kabarnya tahun lalu toyota berhasil membukukan penjualan tertinggi didunia, hanya dengan 1 brand. sementara GM dan Ford harus berbagi dengan belasan brand diratusan arena seluruh dunia. hebat gak tuh? artinya mobil jepang merk satu ini udah patut disandingkan dengan mobil-mobil eropa berteknologi tinggi donk? uhuy. Toyota tampil prima diberbagai kelas disini. di kelas 60-80 jutaan, ada soluna matic yang ringan dan lincah namun tahan banting. kelas 80-100 juta ada corolla 1.8l yang menurut beberapa pengguna lebih enak dipakenya daripada corolla baru. kelas 100-120 juta ada vios matic yang lama, yang gue bilang sih lebih enak daripada vios baru: lebih empuk dan modelnya lebih keren. di kelas yang sama ada juga altis J dengan power lebih besar tapi tetep irit, yah 1:10 aja masih dapet lah. trus di kelas 120-140 jutaan ada avanza matic, yaris matic, dan altis matic. altis? iye! tapi taunnya rada lamaan ya, 2003 gitu. kelas diatasnya lagi malah udah dapet avanza baru atau yaris, juga baru. avanza matic dihargain 153 jutaan, yaris matic 160 jutaan. sementara altis 2004 udah ada yang jual di 137 juta. good bargain. bedanya altis 2004 ini udah dilengkapi mekanisme VVTi, jadi jauh lebih irit daripada taun sebelumnya. kalo altis 2005 harganya masih 165 jtan, tapi susah banget nyarinya. eh, bentar, kalo segitu mendingan yaris baru donk? eits, jangan salah. dari beberapa altis yang gue coba, walaupun kilometernya udah 40ribuan tapi rasanya dan baunya masih baru ajah. Lho, gak ada vios disini? hm, bukan karena image mobil taksinya ya. tapi semua vios model baru yang gue coba, semuanya keras. mungkin karena settingan suspensinya atau gimana, keras betul! walaupun larinya sih kenceng banget men! 160km/h aja mah kaga kerasa kalo naik mobil taksi ini.

Di kelas diatasnya lagi ada banyak mobil mobil yang patut diperhitungkan:

- all new jazz 2008, dengan power 120hp... who can resist?
- altis 2006, lebih murah daripada competitornya, civic.
- toyota rush 2007, tinggi, empuk, luas, irit juga.
- suzuki vitara 2007, ini keren... sumpah keren... sexy poll
- ford focus 2007, kenceng. irit, dan lincah. pas!
- mobil CBU: Honda Stream, Toyota Wish, VW Golf GTi.

tapi kalo udah kelas segitu sih, buat gue pribadi (catet, pribadi ya) udah ngga lucu lagi. depresiasinya masih tinggi. bisa 20 jutaan setaun. belom lagi pajaknya pasti udah diatas 3 juta setaun. wow!

Jadi pilihan jatuh pada mobil yang mana Bub? haha, nantikan ulasan lengkapnya di posting setelah ini. jangan kemana mana, saya segera kembali setelah pesan-pesan berikut...

04 February 2009

Childish

Udah lama gue kena penyakit males nulis, spertinya ketularan eve deh. gila yah, masa sekarang sebulan tiga postingan doang? aduh. kira kira obatnya apa ya? apakah gue harus berhenti ngeplurk demi terjaganya kelestarian blog tercinta ini?

Dan akhirnya datanglah protes dari pitoe dan y4nie bahwasannya gue udah lama engga menulis lagi. wuih, gue engga nyangka loh! maksudnya, gue ga nyangka kalo mereka rajin dateng kesini. kalo gue sih rutin menyambangi tempat mereka, infact.. gue pasang rss blognya pitoe di blackberry gue. tapi gue engga pernah punya bayangan kalo mereka dateng kesini. terima kasih ya teman teman... (cozy)

Baiklah, kali ini gue mau memposting tentang sesuatu yang orang namain: "childish"

Childish itu kalau orang indonesia (jaman dulu) bilang kekanak kanakan, bergaya seperti anak anak. "Being the manner of a child", kalo kata wikipedia. mungkin buat beberapa orang being childish itu keliatan lucu dan imut, dan beberapa orang yang lain merasa nyaman dianggap lucu dan imut. memang kalau ngomongin tentang anak kecil, yang terbayang di kepala kita adalah penampakan makhluk mungil nan lucu dan imut. namun dibalik kelucuan, keluguan dan keimutan tersebut sebenarnya anak kecil menyimpan potensi sifat sifat egois yang mau menang sendiri. it is so natural.

Egoisme ini adalah musuh nomor satu kedewasaan. in fact, kalau ada orang dewasa yang berlaku egois, selalu orang bilang: "ih, kok kayak anak kecil gitu sih?".

Maksudnya, kalo anak kecil boleh bertindak begitu. kalo udah gede? no way. jadi kalo berchildish ria, biasanya egoism comes in one package gitu. alih alih terlihat imut, orang dewasa yang bertindak childish malah mungkin terlihat egois dan (mungkin) juga merepotkan orang lain. believe it or not, people are actually irritated by that kind of thing.

Gue terus terang termasuk sama orang orang yang childish ini. malahan dulu, pernah dalam satu periode waktu, gue menolak untuk beranjak dewasa. tapi sekarang sih, udah punya anak ginih, ya mau gak mau teuteup harus mau dewasa. udah nasib. walaupun gue kadang kadang suka childish sih, tapi gue beneran terganggu betul kalo ngeliat orang lain yang childish. C'mon lah.. grow up! pengen rasanya ngededes begitu. see? egois bukan?

Kedewasaan adalah result dari proses belajar hidup manusia. hal itu tidak datang sendirinya, melainkan harus menempuh tempaan tempaan menyakitkan bagai besi dibuat jadi pedang. hmmm, again, sakit buat sebagian orang tapi yang lain sih cuek cuek aja.

Derajat kechildishan juga ternyata bervariasi. tergantung dari derajat kedewasaan orang yang melihatnya. dan celakanya, norma norma umum masyarakat kita engga punya skala yang jelas tentang derajat ini. biasa lah, make tank top bisa jadi biasa di satu tempat namun bisa dihujat orang sedesa kalo ditempat lain. Maka dari itu, kalo kata gue sih, tidak patut bagi seseorang untuk menghakimi orang lain lebih childish dari mereka. dan juga tidak patut bagi seseorang untuk menganggap bahwa dia lebih dewasa dari yang lain.

You dont know what you dont know, right?

Gue selalu mencibir orang orang yang tidak mau berhenti di zebra cross untuk memberi jalan bagi pejalan kaki. ngapain sih ngotot? situ kan pake mobil: ada gasnya ada remnya, harusnya kasih jalan sama yang modal dengkul donk. tapi percayalah... dulu gue termasuk orang yang nggak mau kalah itu. berani nyebrang.. cium bemper gue.

Dulu kalo nyetir, musuh gue nomor satu adalah pengendara motor. mereka selalu seliweran gak jelas dan bikin acara nyetir gue gak nyaman blas. rasanya waktu itu gue selalu pengen ngelindes tu motor motor gak jelas itu. emm, sering sih, waktu mobil gue masih jip segede gaban itu, hehehe. tapi sekarang engga, sekarang gue selalu menyisihkan sebidang jalan buat motor untuk lewat disebelah kiri, terutama kalo lagi macet. kan kasian, naik motor itu cape loh! dan panas, dan basah kuyub kalo ujan.

Sebenarnya tidak ada salahnya untuk berlaku childish. Menjadi dewasa adalah hal yang meletihkan. sangat. gue berkali kali kedapatan bertindak 'sok imut' ini dan people closed to me are actually complained about it. I mean, what's the meaning of being grown up if we can not being childish sometime? Bini gue selalu bilang, "Ini lagi satu, adu childish childishan sama Bunga". hahaha. My boss dulu juga once complained to me, "Tolong deh bub.. business manner lo musti dijaga. keep it professional ya."

aduh!