Apa yang kau cari di blog ini?

Tuesday, July 28

hari ini setahun yang lalu

hohoho, tidak.. gue engga bikin cerita tentang berpulangnya papi taun lalu. belum.

gue mau cerita, hari ini tepat setahun yang lalu, gue inget kalo gue waktu itu berdoa pada Tuhan. doa yang sungguh sungguh -melibatkan linangan air mata dan dengan berbagai hiasan bahasa didalamnya- waktu itu gue minta sama Tuhan berbagai macam hal. saat ini, ada yang udah dikabulkan, ada yang belum. mungkin Tuhan punya rencana yang lebih baik daripada apa yang ada di otak gue.

salah satu permintaan gue yang diapprove, adalah gue minta dijauhkan dari teman teman yang jahat sama gue. atau setidaknya yang punya pikiran jahat tentang gue. perlahan tapi pasti, hari demi hari, bulan demi bulan, satu persatu gue ditinggalin temen-temen gue dan mendapat teman teman baru.

ini artinya, kamu.. ya KAMU! adalah teman-teman terbaik gue :)

hugz donk! MUACH! hihihi...

Friday, July 24

Indonesia Bersatu

Lagi-lagi gue suka mikirin pertanyaan engga penting yang tau tau nongol di alam pikiran gue. Waktu kapan itu ngemplurk, ada pertanyaan kenapa kalo rupiah itu angka enolnya banyak banget. Bayar angkot dua ribu, bayar tebotol dua ribu. Kencing aja bayar seribu.

Di kemang ada restoran yang makanannya berharga satu juta rupiah per set untuk satu orang, kebayang dong kalo ada bule yang baru dateng ke kepulauan ini makan disitu, dia akan cerita sama temen temennya disana, I ate one million rups meal for dinner! Woohoo.. Apa gak keliyengan tu ngebayangin angka nol-nya :)

Pertanyaan timbul: kenapa gak kompakan aja sih, kita rame rame ngilangin tiga nol dibelakan duit kita masing masing? Ya gak? Kayak gerakan nasional semacam #indonesiaunite gitu. Toh buat kebaikan kita juga kan? Pemerintah dan rakyat saling bahu membahu menghilangkan skala keribetan nasional berupa angka nol. Agar bangsa kita menjadi layak disandingkan dengan bangsa bangsa lain yang currency-nya ngga ribet. Sounds good eh?

Tapi ternyata ada udang dibalik semua keribetan ini. Ternyata dipedalaman sana masih ada loh warga negara indonesia yang dalam perekonomiannya masih menggunakan uang pecahan dibawah seribu rupiah. Jadi kita ngga bisa begitu aja seenak jidat menghilangkan angka nol dalam rupiah, nanti mereka mereka yang masih belanja pake duit cepek’an bisa marah marah. dan presiden manapun dimuka bumi ini ngga suka kalo (sebagian) rakyatnya marah marah.

Jadi ya, moral of the story-nya adalah: buat elo yang udah kelamaan tinggal di Jakarta mendingan jangan terlalu mudah untuk menghakimi kecarut-marutan administrasi negri ini, oleh pemerintahan era manapun. Karena sebenarnya Indonesia ini amat sangat kompleks. Apapun yang dipikirkan dan dilakukan oleh Jakarta pasti banyak yang dirugikan di daerah sana. Dan sebaliknya, apabila daerah complain tentang keputusan yang diambil oleh orang Jakarta, percayalah.. Kita melakukannya demi harkat dan martabat bangsa.

Indonesia… bersatulah!

Tuesday, July 14

something for myself

This is it, I never thought that I finally would write this kind of posting before. But, I have something in my mind that need to be written. It doesn’t matter whether I like it or not, I have my own reason.

So here is the problem: I’m losing my english. I have to admit this. For some of you perhaps it is not a big deal, but for me it is personally a critical matter. You see, having capability in reading, speaking, writing and listening english language is not something that could happen any second. It needs decades of development especially for me. I’m not good in communications, it is hard for me to learn codes, structures, names, nor terms of any kind of language other than what I use in daily conversation. Yet I wanted to be able to speak it, write it, and understand what it is saying.

Not so long ago, I was just speaks person who speaks like a donkey blabbering inconsequently without hoping the opponent understands what am I trying to tell. Don’t get me wrong, I did understand english at that time, I learned a lot from movie text and television, but I just couldn’t express myself correctly with the damn language. Then I invested some of my resources to dig it deep, learn it more, and acquire such ability. Not to be as fluent as our belated michael jackson, but at least I understand.

I started this blog many many moons ago, with a full confident that I don’t need to write posting in english. Why? It could sounds silly but I am more comfortable to write in Bahasa. I paid no regard to the idea that poor english is a residue of such confidence. Sometime I use english in mixtural context with bahasa, due to the fact that english may describe object more delicately. What I don’t know is this behavior consumed my capacity word by word, meaning by meaning.

I put some excuses that I still use english in my works. Composing email, compiling reports, or presenting my concepts. But later I’m getting more confident in doing all of it in bahasa first, before I translate it all in english. Something that I would not recommend to all of you, it is called ‘cheating’ in some extent. A long the way, however, I loose my grip and start to put in some interesting language in my corridor. Sunda and Suroboyoan for instance. And I’m getting more and more comfortable in this condition.

Suddenly, my fellow cubical dweller in front of me asked whether I know the english word for something silly in bahasa. And I couldnt answer. I looked for the word, what I got is just an empty attic inside the back of my head. Where are they? Where are the bloody words I stored in there? It was use to be a shiny colorful space, neat and tidy. Now it is just hollow dark place full of filthy spiderweb here and there. The harder I tried, the darker that side becomes.

And I come to this moment. Writing. Try to prove myself that I am still be able to use what ever left in my mind. I am not complaining, I try to be responsible towards what ever consequences it brought. Moaning for what ever has faded. Grieving for what ever has gone.
Gone to soon

Thursday, July 9

sexual harrasment

tergelitik oleh rumpi rumpian pantry, gue jadi mikir betapa saat sekarang ini sering banget orang melempar issue tentang pelecehan seksual. dan seiring dengan perkembangan treatment hak asasi manusia, pelecehan dalam bentuk apapun bisa diganjar dengan hukuman setimpal. hm, bingung nih gue... hukuman yang setimpal dengan pelecehan? ngukurnya begimana?

di lingkungan pekerjaan yang mayoritas pria, adalah hal yang sangat wajar apabila para cowo cowo ini mempergunjingkan seks sebagai bahan obrolan pelepas stress. sexual joke adalah kebutuhan sehari hari dan dapat melepas tensi. sex joke bisa jadi sensitif apabila di lingkungan pekerjaan jumlah cowo ama cewenya mirip mirip, kalo ga bisa dibilang sebanding. boss yang melempar sex joke ke subordinat bisa lantas didakwa dengan tuntutan sexual harrasment. mungkin apabila ada boss yang ramah dengan rajin menjamah anak buahnya, bisa kena dakwaan lebih tinggi lagi.

dakwaan 'pelecehan seksual' menjadi monster yang menakutkan buat lelaki modern saat ini. sex joke di kalangan karyawan menjadi hal yang tabu, karena suatu saat bisa jadi bumerang yang menyakitkan. memegang lengan atau pinggang rekan kerja bisa bikin karir berantakan loh.

sebenarnya yang lebih dirugikan itu si pelaku atau si korban pelecehan sih?

seorang presiden amerika pernah terkena kasus pelecehan seksual yang menyebabkan beliau dipecat dari jabatannya. wait, apakah presidennya yang bejat? atau staffnya yang mengundang kebejatan? it takes two to tango, you know. seorang pebisnis showroom mobil kedapatan memperkosa (calon) karyawannya dua kali dan dipenjara. ehm, dua kali dilecehkan?? kalau sekali sih mungkin iya ya, kalo dua kali? dan dilakukan di hotel jam jaman pulak.. halooo, mbak (calon) karyawan harusnya bisa say no in the first place bukan?

padahal seks bukanlah hal yang menyeramkan loh. sex is something fun, energetic, penambah semangat kerja.

ribuan tahun yang lalu, lagi masa masa kerajaan di eropa, tubuh manusia dihormati sebagai karya cipta Tuhan yang sangat indah. keindahan yang dipuja puji sampai artist artist jaman itu membuat lukisan-lukisan dan patung-patung yang mempertontonkan aurat manusia, baik laki atau perempuan. 'karya seni' itu dipajang di ruang publik, untuk dinikmati bersama sama. bangsawan ataupun rakyat jelata. you can actually enjoy sex in public domain. liat liat penis dan payudara yang indah.

engga cuma di eropa saja, nusantara sebagai perwakilan bangsa timur, punya artefak 'karya seni' serba telanjang dan ndusel mendusel terhampar di relief candi candi seluruh indonesia. di india malah seks dikitabkan dan sampai saat ini masih dibaca sama orang. adakah si pemahat dan si penulis buku dipenjarakan? tidak.

sesungguhnya ada koridor-koridor yang jelas untuk melindungi seksualisme dari ekses-ekses negatifnya. ada aturan aturan yang melarang mengekspose seks kepada anak dibawah umur dan mengeksploitasi seks anak-anak dibawah umur. ini harga mati. ada juga ancaman khusus bagi praktek aborsi, ini juga harga mati. malah, seharusnya ada larangan untuk mempengaruhi seorang virgin untuk bercinta. virginity adalah pilihan, baik lelaki ataupun perempuan, seperti seseorang yang tidak ingin merokok kan engga bole dipengaruhi untuk menjadi perokok.

nah, karena aturannya jelas, marilah kita bermain di koridor public domain secara bebas, kreatif, dan bertanggung jawab. seks, bukanlah hal yang tabu. cobalah untuk mengkomunikasikan seks lebih bebas dan lebih kreatif. niscaya kedengarannya akan lebih manis daripada sex joke yang risih dan filthy.

jadi, apabila anda wanita jangan segan segan bilang sama lawan bicara anda, "please dont take it wrong, gue cuma mau bilang kalo elo punya penis idaman banyak wanita". atau bila anda lelaki, jangan sungkan bilang sama teman wanita anda,"maaf jangan salah sangka, saya tidak dapat mengalihkan mata saya dari payudara anda karena bentuknya yang sangat-sangat menarik". apabila dikomunikasikan secara tepat, lawan bicara anda tidak akan tersinggung, malahan akan sangat tersanjung. percayalah.