27 July 2017

GUA EXPAT!

Kan kalo denger kata EXPAT sejenak biasanya gak enak kuping kita dengarnya. sombong, berjarak, gak kenal, akan terngiang di benak kita. dilain kesempatan, kata itu akrab dengan kita kita yang pengen mencari tambahan keuntungan dengan menjual apa itu lebih mahal dari biasanya.


Coba bayangin deh, expat itu idupnya gak gampang loh.

Beberapa temen gw cukup beruntung bisa jadi expat, ada yang di Jepang, ada yang di Singapore, banyak juga yang di Malaysia. Ada yang multinational company, ada juga yang by project, ada juga loh yang masuk ke family owned company. yang terakhir ini agak agak beda tipis sama pembantu sih, jadi GM sebuah chain restoran yang ownershipnya punya keluarga kaya di timur tengah. yang ada malah kerjanya hampir 24 jam, tinggal juga di rumah dinas yang lebih mirip sama kamar kos milik keluarga. 

Rata rata kalo gue liat dari jauh, sepertinya enak.
orang indonesia yang bisa petentang petenteng nyuruh nyuruh orang lokal. inlaander. yang kadang bentuknya caucasian. 

Setahun yang lalu, gw dapet kesempatan untuk bekerja di luar Indonesia. Boss gw yang expat minta gw ngerjain apa yang gua kerjain di Jakarta, tapi untuk Papua Niugini. gw curiga doski takut sama suntikan malaria deh. mangkanya dia delegate kerjaannya ke gue, dan beberapa orang lainnya di kantor gw.

Jadi umumnya semua perusahaan besar disana dikontrol sama kantor cabang di Australia, tapi khusus di kantor gw Papua New Guinea itu dikontrol sama Jakarta. Kurang lebih gw seperti karyawan kantor Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang ditempatkan di Batavia. Pertama tama sih gw agak down mental, soalnya semua-muanya serba terbelakang. cara bekerjanya very very basic. Tapi ya memang rata rata kan begitu yak, bule juga kalo ditugaskan ke Indo mungkin ngerasa hal yang sama.  

Bekerja diluar zona nyaman, itu sangat melelahkan. sulit sekali untuk membangun kepercayaan dengan rekan kerja. apalagi, tuntutan performance pekerjaan tetap tinggi. pada akhirnya apapun yang kita kerjakan rasanya kayak enggak cukup. tapi, to be fair.. apapun yang kita kerjakan tetap dianggap kemajuan sama mereka. 

Ini belum ngebahas hal hal teknis ya, kayak kota yang lebih panas dan lebih kering dari kota asal, bebauan yang kurang bersahabat, dan etos kerja yang sangat sangat berbeda dengan kita. Jadi gw paham sekarang kenapa meneer-meneer Belanda waktu itu sangat sangat stress, dan melakukan hal ugal-ugalan di mata para inlaander. Sangat mudah buat gue waktu itu menyinggung perasaan orang lokal, padahal gw enggak bermaksud. 

Tapiiii

Diluar dari keluh kesah, gw bilang sih jadi expat itu exciting. apapun yang kita lakukan, sedikit banyak membawa kemajuan. apapun yang terjadi di-sana, pernah terjadi di Indonesia 20-30 tahun yang lalu. jadi kita udah tau apa yang harus dilakukan apabila sesuatu terjadi. challenge yang paling berat, adalah memutuskan untuk doing the right thing. karena biasanya the right thing itu bukanlah the easiest thing. hehe.

Privilege itu biasanya bonus, dateng dengan sendirinya.. sepaket. gw kalo masuk ke supermarket enggak perlu menitipkan tas seperti umumnya orang lokal, karena orang sana sering nyolong apa-apa dimasukin ke tas. Trus kalo ngapa ngapain gw selalu diliatin -- ini beneran diliatin orang segambreng, soalnya muka dan kulit gw berbeda dengan mereka. 

Tiba tiba, gw punya sense sama mata uangnya, tau harga itu mahal atau murah. Trus, tiba tiba gw bisa bahasa mereka, little little I can laaah.. 
Terus tiba tiba, gw punya pendapat politik dan tidak suka sama salah satu politikus disana. Kalo diterusin, elu akan merasa 'dibutuhkan' sama orang sana. 
Mangkanya, gw suka mikir kenapa banyak bule yang jatuh cinta sama Indonesia dan spend most of their life disini, karena semua yang diterusin itu emang rasanya enak. 

Yaah, kadang kadang gw juga suka kelepasan juga. kalo lagi capek jaim, ya keluar dah selonnya anak begundal. kadang gw melanggar berbagai aturan, kadang juga gw lebih milih untuk cekikikan sama temen temen sesama Indo hanya karena capek seharian ngomong inggris mulu. Kadang-kadang juga gw ngomong pake Bahasa langsung ke temen gw yang Indo karena mereka gak ngerti kita ngomong apaan, sesuatu yang sering dilakukan oleh orang Jepang disini, dan sering menyebalkan kalau yang kayak gitu orang China. 

Kesan gua sama Papua Niugini.. adalah negeri itu beneran PARADISE. ini gue loh yang ngomong, orang yang lahir di untaian zamrud katulistiwa. hahaha.. Paradise bukan karena bumi-nya tapi karena bangsa Papua itu seperti berasal dari Nirvana. Mereka adalah bangsa yang ramah, bangsa yang berbicara melalui mimik muka. Mereka mengaitkan jari dengan orang yang diajak bicara, bukan hanya salaman. Walaupun feromone mereka sangat ofensif 🤢, mereka bangsa yang lembut, lo pada tahu lah mana mana bangsa di negeri kita yang galak luarnya mana yang lembut dalamnya. Nah mereka ini lembut luar dalam. 

Orang Papua walaupun satu ras sama orang Aborigin dan orang-orang Pasifik lainnya, mereka berbeda sendiri. Mereka sudah menghuni daratan tersebut selama 40 ribu tahun, jauh lebih lama daripada suku Sunda yang pertama kali mengokupasi pulau Jawa. mereka sudah mengalami berbagai peradaban, dan mereka memilih hidup seperti yang mereka inginkan. Berbeda dengan kita yang harus mengejar hidup yang dipilihkan oleh orang lain. 

Bener kan?