kecipak kecipuk nyari nyari website yang cucok buat masang iklan, nemu angka angka menarik dari proposal mereka. btw, ini claim dari pengelola website loh yah.. walaupun banyak data data yang gue baca didapet dari Nielsen, tapi jangan mudah percaya... waspadalah!
-tahun lalu jumlah visitor detik.com mencapai 8 juta visitor sebulan, sedangkan kaskus mencatat visitor hampir 4.5 juta ip dalam sebulan. kalau dipasangin counter kayak punya gue dibawah situ mungkin sejam udah jebol kali ya.
-180.000 orang yang berinternet di Amerika Serikat menggunakan bahasa instead of plain english.
-milis dengan jumlah anggota terbanyak di Indonesia adalah milis bokep, yang kedua terbanyak adalah milis lowongan kerja. jadi kesimpulannya mayoritas orang Indo yang melek internet pada lagi nyari kerja sambil nyari gambar bokep.
-sebuah website terkenal yang digunakan banyak orang seantero dunia menerima hits dari 2 juta IP di Jakarta, delapan kali lipat dari kota kedua Bandung dengan 250 ribu IP saja, kota ketiga juga 250rb IP: Surabaya
-Jogja ama Medan in par. Malang lebih banyak dari Madiun, MADIUN LEBIH BANYAK DARI SEMARANG. Bahkan Palembang pun lebih tinggi dari Semarang. duh cah, do ngopo wae kowe ndess...
-konsumsi BBM di Jakarta sekitar 30% konsumsi nasional, tapi pengguna internet di Jakarta mencapai 50% pengguna nasional. bukti ketimpangan infrastruktur internet di Indonesia.
Friday, May 23
ada apa ini?
By
Bubba
a.k.a Yummy Daddy
15:20
|
Saturday, May 17
the point of no return
I used to be a sceptical person terhadap pertandingan olahraga, apalagi kalau yang main adalah atlet-atlet dari Indonesia. padahal banyak loh sebenernya prestasi team Indonesia di pertandingan olahraga international. cuman ya, masih aja gitu gue pandang sebelah mata. abisan banyakan nggemesinnya daripada prestasinya. buat sebagian orang, sport competition adalah hal yang menggemaskan, dan mencandu. tapi buat gue, banyak hal hal lain yang perlu diperhatiin daripada nonton kompetisi beginian.
semenjak terlibat dengan beberapa event olahraga, baik kelas erte-erwe sampe dengan world class sporting event belakangan ini, gue jadi lebih menghargai jiwa kompetisi teman teman atlet kita, yang sudah berjuang kepayahan, dan kalah pula. phisically, ras kita memang tidak sebanding dengan ras ras lain didunia. toh mereka tetap harus berjuang, berharap menang, sampai titik darah penghabisan. ditengah lautan scepticism jutaan orang termasuk gue ini, mereka harus tetap membanting tulang. tanpa imbalan masa depan yang jelas. teringat di suatu rapat dengan badan negara yang mengurusi olahraga tanah air, terlihat seorang mantan atlet nasional -yang menepis 2 milyar rupiah dari broker judi untuk mengalah tahun 1987- mengurusi surat undangan, notulen rapat, dan beliin nasi kotak untuk kita para undangan.
pesimisme jugalah yang membuat gue engga betah nonton pertandingan olahraga, apalagi yang main orang indonesia. gue berenti nonton piala thomas dan uber sudah belasan tahun yang lalu, karena setiap gue nonton pasti tim indonesia kalah. tapi kalo gue ngga nonton, pasti tim indonesia menang. waktu piala asia indonesia vs bahrain di putaran pertama, gue terjebak macet di semanggi dan gak sempet nonton langsung. dan indonesia menang aja dong. eh seterusnya giliran gue nonton sampe putaran terakhir: kalah melulu. persis seperti kemaren gue nonton piala thomas waktu kita dibantai 3-0 sama korea.
scepticism yang lebih berat berlaku buat gue untuk menerima sebuah teori dasar tentang berciuman. hah?. iya ciuman, seperti tertulis disini ciuman dibibir adalah ciuman cinta. seperti saat Linguini mencium rekan kerjanya di film Ratatouille. cinta timbul disitu. nyata. mungkin hanya satu satunya jalan dimana manusia dapat merasakan cinta itu nyata. kayak di film 27 dresses dimana ada adegan ketika Jane finally mencium George, pria idamannya. dan baru ketawan kalo tidak ada cinta diantara mereka.
but love is a love. the path is too deep, kalo kata komputer gue. artinya, it is a basic feeling that a human being can feel. no fancy words, no fancy moment. when you feel it, you can actually feel it. seperti kupu-kupu. terbang didalam perut. you can either being sceptical or denial. your call.
Oh Lord, I'm in trouble.. aduh, gue ngomong apa sih. bundet. kenapa bisa jadi gini sih? *sigh*
p.s: Sayang, aku ngga tahan... akhirnya aku nonton juga yang Uber, dan kalah. ihik...
semenjak terlibat dengan beberapa event olahraga, baik kelas erte-erwe sampe dengan world class sporting event belakangan ini, gue jadi lebih menghargai jiwa kompetisi teman teman atlet kita, yang sudah berjuang kepayahan, dan kalah pula. phisically, ras kita memang tidak sebanding dengan ras ras lain didunia. toh mereka tetap harus berjuang, berharap menang, sampai titik darah penghabisan. ditengah lautan scepticism jutaan orang termasuk gue ini, mereka harus tetap membanting tulang. tanpa imbalan masa depan yang jelas. teringat di suatu rapat dengan badan negara yang mengurusi olahraga tanah air, terlihat seorang mantan atlet nasional -yang menepis 2 milyar rupiah dari broker judi untuk mengalah tahun 1987- mengurusi surat undangan, notulen rapat, dan beliin nasi kotak untuk kita para undangan.
pesimisme jugalah yang membuat gue engga betah nonton pertandingan olahraga, apalagi yang main orang indonesia. gue berenti nonton piala thomas dan uber sudah belasan tahun yang lalu, karena setiap gue nonton pasti tim indonesia kalah. tapi kalo gue ngga nonton, pasti tim indonesia menang. waktu piala asia indonesia vs bahrain di putaran pertama, gue terjebak macet di semanggi dan gak sempet nonton langsung. dan indonesia menang aja dong. eh seterusnya giliran gue nonton sampe putaran terakhir: kalah melulu. persis seperti kemaren gue nonton piala thomas waktu kita dibantai 3-0 sama korea.
scepticism yang lebih berat berlaku buat gue untuk menerima sebuah teori dasar tentang berciuman. hah?. iya ciuman, seperti tertulis disini ciuman dibibir adalah ciuman cinta. seperti saat Linguini mencium rekan kerjanya di film Ratatouille. cinta timbul disitu. nyata. mungkin hanya satu satunya jalan dimana manusia dapat merasakan cinta itu nyata. kayak di film 27 dresses dimana ada adegan ketika Jane finally mencium George, pria idamannya. dan baru ketawan kalo tidak ada cinta diantara mereka.
but love is a love. the path is too deep, kalo kata komputer gue. artinya, it is a basic feeling that a human being can feel. no fancy words, no fancy moment. when you feel it, you can actually feel it. seperti kupu-kupu. terbang didalam perut. you can either being sceptical or denial. your call.
Oh Lord, I'm in trouble.. aduh, gue ngomong apa sih. bundet. kenapa bisa jadi gini sih? *sigh*
p.s: Sayang, aku ngga tahan... akhirnya aku nonton juga yang Uber, dan kalah. ihik...
By
Bubba
a.k.a Yummy Daddy
21:03
|
Friday, May 16
anak gaol
jaman dulu tu ye, someone bakal dibilang gaul kalo dia pake celana baggy, rambut model lupus, dan kemana mana naek corolla dx dengan tape blaupunkt yang bunyinya cekeces-cekeces gitu. nongkrongnya ga jauh jauh kalo gak di lintas melawai ya di keris gallery. hmm dulu namanya apa ya daerah situ itu? lupa. yang pasti belom ada pemisah jalan gak penting itu. dan lintas melawai pun masih 2 jalur.
trus engga tau apa cuman perasaan gue aja apa udah mulai umum, yang namanya gaul mulai memasuki preliminary dugem phase yang dulunya cuman boleh dijangkau sama orang orang dewasa, emm maksudnya 50 taun keatas. dimulai dari diskotik fire, lipstik dan happy days. yang namanya gaul udah mulai deh remang remang, grepe grepe, ajojing sana sini. tapi masih sehat. karena paling banter cuman ngegele. gak lebih. paling ada duit dikit beli mansion. adalah perbuatan nekat waktu itu kalo mau buka botol, secara harga sebotol alkohol dulu bisa menafkahi satu kelurahan.
gaul di phase ini udah mulai masuk ke mall, bukan aldiron ya? mall lho, catet! cuman ya baru ada satu mall sih yang representatif; PIM doang. blok em mall juga keren sih waktu itu, cuman kayak ada yang kurang apanya gitu.
abis itu dimulailah masa masa kegelapan bangsa. 'gaul' udah bukan lagi milik orang orang yang senang sinar matahari. kalo pengen gaul, artinya musti masuk ke ruang gelap dan berisik. dimulai dengan ebony di kuningan, trus dibuka m club di blok m plaza. trus di bandung di buka sirkuit, dan diganti sama polo nan legendaris. surabaya ngga mau kalah dengan bikin colors. di bali pun double six merajalela.
gaul adalah neken inex bareng bareng. atau buka botol. atau apa lah.
satu dekade kemudian, orang sudah mulai capek ngeracunin badan. starbucks memanfaatkan peluang ini baik baik. orang indonesia tu doyan 'nongkrong' dan mereka menyediakan tempat nongkrong, bukan ajojing, bukan dugem, hanya nongkrong. dengan harga premium tentunya. dan coffee club pun merajalela. orang yang masuk klub disko pun dianggep dinosaurus. dan dimulailah satu era 'gaul' baru di ibukota. cafe alfresco. bermacam tempat pusat perkumpulan alfresco cafe baru bermunculan, icon-nya adalah citos yang sampe sekarang kaga ada matinye.
kontroversi seputar pergaulan memang seru. karena segmen penghuni negri ini pun bersegmen segmen. ada yang bilang begini begini itu gaul ada yang bilang begini yang sama itu norak. sampai saat ini gaulnya anak jakarta sebelah selatan totally different sama gaulnya anak jakarta sebelah utara, referring to citos-pe i mol vs MKG misalnya, atau embassy vs stadium.
personally, gaul buat gue adalah how you measure your phone book didalem henpon lo. artinya makin gaul seseorang makin bejibun nomer telpon yang tercatat didalem henponnya. pernah seorang 'anak gaul' sahabat gue berkeluh kesah karena henponnya udah ngga muat lagi menyimpan nomer telpon. alumengga, apa lu mau gue ada. tinggal telpon. suatu saat pernah gue beli henpon seken, dan pemilik sebelumnya lupa menghapus memori telponnya. saat gue nyari nama temen gue, muncul nomer telepon "edi tansil" dan "amien rais". entah ini orang suka ngasih nama rekannya sesuai dengan kemiripan fisik terhadap tokoh nasional, atau emang gaul beneran. gelab.
your thoughts?
trus engga tau apa cuman perasaan gue aja apa udah mulai umum, yang namanya gaul mulai memasuki preliminary dugem phase yang dulunya cuman boleh dijangkau sama orang orang dewasa, emm maksudnya 50 taun keatas. dimulai dari diskotik fire, lipstik dan happy days. yang namanya gaul udah mulai deh remang remang, grepe grepe, ajojing sana sini. tapi masih sehat. karena paling banter cuman ngegele. gak lebih. paling ada duit dikit beli mansion. adalah perbuatan nekat waktu itu kalo mau buka botol, secara harga sebotol alkohol dulu bisa menafkahi satu kelurahan.
gaul di phase ini udah mulai masuk ke mall, bukan aldiron ya? mall lho, catet! cuman ya baru ada satu mall sih yang representatif; PIM doang. blok em mall juga keren sih waktu itu, cuman kayak ada yang kurang apanya gitu.
abis itu dimulailah masa masa kegelapan bangsa. 'gaul' udah bukan lagi milik orang orang yang senang sinar matahari. kalo pengen gaul, artinya musti masuk ke ruang gelap dan berisik. dimulai dengan ebony di kuningan, trus dibuka m club di blok m plaza. trus di bandung di buka sirkuit, dan diganti sama polo nan legendaris. surabaya ngga mau kalah dengan bikin colors. di bali pun double six merajalela.
gaul adalah neken inex bareng bareng. atau buka botol. atau apa lah.
satu dekade kemudian, orang sudah mulai capek ngeracunin badan. starbucks memanfaatkan peluang ini baik baik. orang indonesia tu doyan 'nongkrong' dan mereka menyediakan tempat nongkrong, bukan ajojing, bukan dugem, hanya nongkrong. dengan harga premium tentunya. dan coffee club pun merajalela. orang yang masuk klub disko pun dianggep dinosaurus. dan dimulailah satu era 'gaul' baru di ibukota. cafe alfresco. bermacam tempat pusat perkumpulan alfresco cafe baru bermunculan, icon-nya adalah citos yang sampe sekarang kaga ada matinye.
kontroversi seputar pergaulan memang seru. karena segmen penghuni negri ini pun bersegmen segmen. ada yang bilang begini begini itu gaul ada yang bilang begini yang sama itu norak. sampai saat ini gaulnya anak jakarta sebelah selatan totally different sama gaulnya anak jakarta sebelah utara, referring to citos-pe i mol vs MKG misalnya, atau embassy vs stadium.
personally, gaul buat gue adalah how you measure your phone book didalem henpon lo. artinya makin gaul seseorang makin bejibun nomer telpon yang tercatat didalem henponnya. pernah seorang 'anak gaul' sahabat gue berkeluh kesah karena henponnya udah ngga muat lagi menyimpan nomer telpon. alumengga, apa lu mau gue ada. tinggal telpon. suatu saat pernah gue beli henpon seken, dan pemilik sebelumnya lupa menghapus memori telponnya. saat gue nyari nama temen gue, muncul nomer telepon "edi tansil" dan "amien rais". entah ini orang suka ngasih nama rekannya sesuai dengan kemiripan fisik terhadap tokoh nasional, atau emang gaul beneran. gelab.
your thoughts?
By
Bubba
a.k.a Yummy Daddy
12:51
|
Subscribe to:
Comment Feed (RSS)
