26 December 2007

my side of the story, part 3

Pertemuan terakhir dengan si bidadari mengambil tempat di sebuah lunch ber-empat; aku, istriku, si bidadari, dan teman (pacar?) si bidadari. suatu makan siang yang hambar. pulangnya kami berempat berpisah menapaki jalan masing-masing setelah itu. istriku-pun memiliki jalannya sendiri, membawa jantungku. meninggalkan aku, seekor beast tanpa jantung, tanpa hati. dengan cepat sang satan datang ke ruangan kosong di bekas jantungku. el diablo himself. duduk dengan sombongnya, dan menunjuk diriku sebagai duta besar kerajaan neraka untuk bumi ini.


Sebagai seorang pejabat kerajaan setan, aku menikmati banyak sekali fasilitas kerajaan. mostly barang haram sih; uang tiada henti mengalir. wanita datang tiada habisnya. party? setiap kali kepingin, consider it done. assignment-ku sangat mudah; menggalang sebuah partai, dimana my-superior menjadi ketua umumnya. aku terbang dari kota ke kota. Jakarta, Bandung, Semarang, Jogja, Solo, Surabaya, Denpasar...

Rasanya seperti ratusan tahun aku bekerja untuk kerajaan itu. hingga suatu saat sebuah pesan datang di telepon rumahku, rumah yang sudah lama ditinggalkan. pesan dari si bidadari. dia masih tinggal di kota ini. She was just checking if that telephone number she has was still mine. tepat pada saat bersamaan istriku datang. dengan muka yang lusuh sekali. membawa jantungku kembali. samar samar aku masih ingat bentuk jantungku sendiri, dengan ukiran kecil berbentuk bidadari di bagian bawahnya. "ya! itu milikku", ujarku datar. "kau boleh memilikinya kembali dengan satu syarat", istriku berucap, "menikahlah denganku".

Satan sangat murka membaca resignation letter yang kukirimkan kepadanya. begitu murkanya hingga hidupku berubah. jauh lebih menderita dari tahun tahun sebelumnya. di semua aspek kehidupan sepertinya. aku tidak bergeming. jantungku telah kembali. tidak ada sisa tempat untuk kerajaan laknat itu lagi disini. istriku menawarkan sebuah kerajaan. lebih kecil memang, tanpa cinta, tapi milikku sendiri. aku pamit kepada sang cinta. menyambangi rumahnya, mengirimkan undangan pernikahan berwarna ungu. undangan yang tak pernah terpenuhi.

Si bidadari memang tidak pernah datang lagi. seperti yang sudah-sudah, jalan setapak yang kami lalui berpisah lagi. aku meninggalkan negeri ini. meninggalkan kota Jakarta tercinta. melepas semuanya. lari mencari tanah impian. tanah yang dijanjikan. tempat kerajaanku berdiri. terjangan amuk si setan tiada mereda. namun benteng kerajaanku masih tegak menepis apapun yang menerpanya. hingga aku terusir dari tanah impian itu.

Bertahun tahun lamanya, aku tidak berjumpa dengan si bidadari. hanya dunia maya yang menjembatani jalan setapak yang kami lalui. Friendster mempersatukan jalan yang terbentang di dua benua yang berbeda, dan YM memberi wadah lalu-lintas kata-kata. menemani hari-hari-ku menempa keahlian yang kubutuhkan untuk menjadi seorang raja. hingga aku siap. rasanya seperti seribu tahun lamanya.

Saat aku kembali ke tanah air. Satan telah menunjuk duta besarnya yang baru. julukannya pun baru, his excellency ambassador. aku tersenyum saja padanya. urakan sekali sih... selamat deh. semoga sukses. Kerajaanku pun berkembang, sedikit demi sedikit. satan berhenti melempar badai ke benteng kerajaan ini. kami sempat berpapasan, dia tidak tersenyum. hanya mengangguk pelan, dan berlalu. entah apa artinya.

Dua tahun aku disini, di kota yang kucintai. kota ini sudah banyak berubah. aku tidak lagi ke toko kaset. musik sudah bisa didownload dengan gratis. bioskop sudah bukan lagi tempat yang tepat untuk melihat daun daun muda. lebih nyaman membeli pertunjukan counterfeit, dan menontonnya dirumah. wijaya twenty-one-pun sudah punah. televisi? ah, sudah tak terhitung lagi saluran televisi kabel dirumah rumah. tanpa parabola, tanpa dekoder. dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu. kapan-pun aku sakaw tontonan televisi, tinggal tekan, et voila, aku jadi potato couch selama berjam-jam. hehehe



Kerajaanku kini sudah memiliki seorang princess. asset yang tak ternilai harganya. setiap hari aku terbangun dalam kecemasan. takut setan datang dan membawanya pergi. sebagai ganti dari my irresponsibility. ah, non-sense.

Apa kabar dengan si bidadari? ada ceritanya disini. di suatu malam yang larut. akhirnya aku berhasil mengungkapkan isi hatiku padanya. demikian halnya dengan si bidadari. Dan disinilah kami berdua terduduk. dihadapan tora sudiro yang sedang bergelantungan dalam Quickie Express. aku tak berhenti menatap tubuhnya. meresapi wangi rambutnya. menggenggam tangannya erat. aku menemukan cinta yang hilang. sampai dimana jalan setapak ini akan tetap bersinggungan? entahlah, jalan ini pasti akan berpisah lagi. seperti yang sudah sudah. one thing for sure: I am the happiest man in the world today.

6 comments:

  1. Ya, Jendral... tunggu sampai cinta merobek perutmu, dan mengurai ususmu. Lagi!

    Cinta tidak pandang bulu, cowboy. Siapapun, dimanapun, kapanpun... ia siap MEMBUNUH!

    ReplyDelete
  2. ih sirik aje deh... hus hus..

    ReplyDelete
  3. Anonymous16:15

    cong, gile lu !!!
    bulet bulet, pinter nulis !!
    pantes aje emak lu di kantor
    tereak tereak :)
    jam kerja buat nge-blog
    wakakakakakakakakak...
    dude, whatever it is, just keep
    your lil princess happy !!
    you're a father now, leave yesterday behind...
    those old days just a piece of
    your memory, keep it there...
    you have your own now, be real..

    ReplyDelete
  4. iye iye... ini juga lagi be real hihihi. sambil nge-blog sambil nyari duit :p

    ReplyDelete
  5. Anonymous18:09

    wakakakakak...
    pulang..pulang...
    besok libur !!
    gak kaya gue, hari ini kudu
    pulang malem, ada auditor
    stok opname !!!
    shit !!!!!!
    next time, ajarin gue develop
    blog ye, elu dah selangkah lebih
    maju :)

    ReplyDelete
  6. Ah senangnya pada berame2 ngeblog. Tapi gue malah belom come up with any story nih... maaf yah bubba manis. Kemaren udah mo nulis, eh ada aja kejadian yang menghalangi. Seperti misalnya, film2 di tipi bagus2. Buku yang harus segera di baca, Horny dan mesti ML. dll dll...

    Ah sibuk... sibuk...

    ReplyDelete