03 November 2008

boobs talk

baiklah... ditag sama eve berhari hari yang lalu, gue baru sempet bikin sekarang. sorry ya bok, soalnya busy busy nih. jalan jalan mulu, hehe. frankly gue gak ngerti apa yang diharapkan eve dari gue dengan ngetag topik beginian. gue gak punya toket, gak begitu doyan toket, dan gak pernah kepengen punya toket. well, sekali dua kali sih gue sering nyewa toket, tapi gak pernah gue inget bener bener. emang harus diinget gitu ya? enggak kan?

nah mangkanya gue bingung, apa yang mau ditulis disini.

okeh, let me see. as far as I know, boobs adalah sesuatu yang dicintai sekaligus di-iri-kan oleh sebagian besar lelaki di seluruh dunia. seperti halnya para wanita mencintai sekaligus iri sama keberadaan penis yang dimiliki oleh umat lelaki. sepertinya Tuhan sengaja menciptakan demikian agar kita sebagai spesies di bumi ini dapat saling mencintai dan bekerja sama dalam menggunakan alat kelamin. lho kenapa lelaki 'iri' sama kaum wanita yang punya toket? kan jelek kalo laki-laki punya toket juga? jadi kayak shemale gitu? huuuu *eneg*

sebenarnya bukan iri seperti dalam konteks possession, tapi sebenarnya iri dalam hal keindahannya. seperti anak SD yang suka iri sama rekannya yang pake sepatu lebih keren, atau punya kotak pensil yang lebih fancy.. yang kalo mau buka tinggal tekan tombol aja. mungkin bukan iri kali ya, lebih seperti fallen in love to something tapi we know that we can never have it. buat lelaki, seperti ada kewajiban genetis dalam insting kebinatangannya dimana harus melirik apabila ada toket lewat, dan kemudian membuat 'flash analysis', memberi score, dan mengingatnya, dalam hitungan sepersekian detik. insting yang sama yang mengharuskan lelaki makan apabila lapar, tidur apabila ngantuk, dan marah marah sebagai kombinasi lapar dan ngantuk. jadi, sebenarnya menundukkan laki laki itu sangat-sangat mudah: tidur cukup, kenyang, dan perlihatkan toket anda.

mitos yang beredar selama ini, ukuran menentukan segalanya bagi toket. padahal sebenarnya tidak. size does not matter (but cleavage does :p and color too :D). in fact, the majority of men do not understand the concept of cup size. buat mereka 36D adalah ukuran yang menggairahkan. nanti kalo dikasih liat visualnya seperti apa, baru deh nyesel. secara visual, yang matter buat toket adalah lipatan kulitnya, ukuran aerola, dan bentuk nipple-nya. itulah kenapa pakaian wanita jaman dulu, baik adat timur atau barat, dari jogja atau texas, selalu menjepit payudara sedemikian rupa hingga menyembul keatas dan memperlihatkan lipatan kulit (dan bukan ukuran toket) kemana mana.

masak sih bub, size doesnt matter?

entah kenapa menurut pengalaman gue cewe cantik toketnya selalu kecil kecil. sungguh. mungkin DNA nya abis buat bikin wajah yang cantik. well, memang masalah selera sih, sama kayak titit kan? ada yang bilang sizenya musti besar, ada yang bilang ukurannya gak perlu besar yang penting bisa muter. dan karena cewe ngga ada yang suka titit seukuran cotton bud, cowo pun ngga suka toket yang rata. walaupun kesannya minimalis.

toket juga mirip mirip sama titit dalam hal rentan terhadap penyakit. wanita paling takut sama kanker payudara bukan hanya karena penyakit tersebut mematikan, tapi juga menghilangkan daya tariknya sebagai wanita karena toketnya harus diangkat. pun pada laki laki, ketakutan terbesar adalah penyakit impotensi. walaupun tidak mematikan, impotensi sanggup memudarkan image seorang laki-laki yang telah berada di puncak dunia.

perbedaan mendasar antara toket dan titit adalah, dalam hal usia pensiun. kalo kata gue, toket punya usia pakai lebih rendah sedangkan titit tanggal kadaluarsanya lebih lama. maksudnya, pesona toket cepat memudar seiring berkembangnya umur. contohnya toket titik puspa. sedangkan pesona titit berkelanjutan, selama bentuknya ngga mirip cakwe medan barang yang satu itu masih bisa diberdayakan sebagaimana mestinya. brrr.. ngebayanginnya juga ogah gue...

ah
eve, topikmu kok sungguh nggak penting gini sih

No comments:

Post a Comment