Apa yang kau cari di blog ini?

Wednesday, November 19

sejak kapan kita menjadi begitu rasis?



I never thought that one day I'd wake up and see such a stunning advertisement in this so called 'leader of nation's journalism' newspaper. Ini ngga sembarang newspaper loh, koran ternama di negara besar yang mengaku bahwa 'unity in diversity' telah mengakar kedalam jiwa segenap rakyatnya.

Apa yang stunning sih bub?

Coba lihat, iklan ini tidak hanya menganak-tirikan manusia Indonesia yang memiliki tinggi badan dibawah sekian sentimeter. tapi juga mengharamkan mereka-mereka yang telah berumur lebih dari 28 tahun. memang tanpa terasa, saat ini buat sebagian orang sudah menjadi kewajaran untuk mengkotak-kotakkan manusia. salah sendiri kenapa jumlah orang di Indonesia menjadi berjuta juta banyaknya itu. manusia jadi makin tidak berharga, iya dong.. supply banyak demand lemah syahwat. tapi HARUS kita sadari bahwa makin kesini kita makin memandang manusia lain berdasarkan golongan. dan kadang kita menjadi kurang menghormati golongan yang kurang beruntung dibanding kita sendiri. makin menjadi sempit pikiran kita kalau hal hal seperti ini mulai kita halalkan demi kepentingan-kepentingan stakeholder tempat dimana kita bekerja.

Di tempat gue, ada suatu 'belief' yang secara turun temurun kita jalani bersama; namanya 'equal opportunity'. kita semua setara. sederajat. semua berhak atas kesempatan yang sama untuk berkembang, walaupun perkembangannya sendiri tergantung dari garis tangan masing masing manusia. kadang ada loh orang yang demen sama yang bantet bantet. belief ini sudah mendekam di hati semua umat, sehingga rasa aman tentram terasa di aktifitas harian kita. bekerjapun semangat, produktifitas tinggi, stakeholder senang, bonus terjamin.

kenapa sih kita engga bisa mengerti hal yang sebegini simple?

dan yang lebih parah, iklan diatas ditambah dengan bumbu rasisme.

apa sih yang salah dengan perbedaan suku di Indonesia? thats a fact of life. namun kita sebagai bangsa telah gagal untuk melihat perbedaan itu sebagai kekuatan. akuilah. sudah begini masih ada yang protes kenapa presidennya harus jawa? it is you, my friend. your mind! your own decision. jauh dibawah nuranimu, jauh dibawah ke-masa-bodoh-an-mu!

dulu, gue pernah ditanya sama salah seorang sahabat; "gimana sih hidup di Australi? katanya disana rasisme masih kentel banget ya?". gue, sebagai resident, merasa terhina. lo dengar sedikit tentang suku aborigin, tau tau bisa mengambil kesimpulan besar tentang satu bangsa. oh no my friend, kita masih jauh lebih racist dari Australia. masa sih?

YA!

No comments:

Post a Comment